Edulicious

Berbagi Berbagai Informasi Pengetahuan

KONEKSI ANTAR MATERI Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-nilai Kebajikan Seorang Pemimpin

12 min read

KONEKSI
ANTAR MATERI

Modul 3.1

Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-nilai
Kebajikan Seorang Pemimpin

 Oleh

Imam
Gunawan

CGP Angkatan 7

Kabupaten Lombok Timur

 

Kutipan
:

“Mengajarkan
anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama
adalah yang terbaik”

(Teaching
kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob
Talbert

Kutipan di atas dapat dimaknai bahwa pendidikan tidak  hanya sekedar mentransfer
ilmu pengetahuan saja, atau  penyampaian materi pembelajaran saja, tetapi
sekolah  merupakan “rumah”  yang berkontribusi membangunnya nilai-nilai,
karakter, etika dan moral pada diri peserta didik. Dengan penerapan nilai-nilai
karakter di sekolah diharapkan peserta didik dapat menyesuaikan perkembangan
zaman dengan tetap memegang teguh nilai-nilai dan budaya yang ada. Sebagai
pendidik tentunya guru, tenaga kependidikan, dan semua warga sekolah harus
menjadi teladan yang baik bagi murid dalam penerapan nilai-nilai etika dan
moral. Pendidikan karakter (Profil Pelajar Pancasila ) di sekolah diharapkan
dapat membentuk   manusia yang humanis, yang
bukan hanya berilmu tetapi juga beradab.

 

Panduan
Pertanyaan untuk membuat Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran (Koneksi
Antarmateri):

1.   Bagaimana
pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh
terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin
pembelajaran diambil?

Tujuan Pendidikan
menurut KHD adalah
menuntun segala kekuatan
kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya
baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Dalam
pandangan KI Hajar Dewantara dengan filosofi Triloka memiliki pengaruh
bagaimana seorang guru mengambil suatu keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Pratap
Triloka yang cetuskan  oleh Ki Hajar
Dewantara ( KHD) menjadi dasar pijakan dalam pendidikan termasuk dalam
pengambilan keputussan sebagai pemimpin pembelajaran. Ada tiga semboyan Ki
Hajar Dewantara yaitu Ing Ngarso Sung
Tulodho
(seorang pemimpin di depan harus menjadi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (seorang
pemimpin ditengah harus memberikan motivasi), dan Tut Wuri Handayani (seorang pemimpin dibelakang memberikan dorongan,
semangat).  

Ing Ngarso Sung tulodo memiliki arti bahwa seorang pendidik
maupun pemimpin harus mampu menjadi contoh bagi anak didiknya, baik bersikap
maupun pola pikirnya. guru harus bisa memberikan teladan yang baik bagi anak
didiknya.

Ing Madya mangun karsa memiliki arti
bahwa bila guru berada di antara anak didiknya, maka guru tersebut harus
mampu memberikan inspirasi dan motivasi bagi anak didik.

Tut wuri handayani memiliki arti bahwa guru dibelakang anak
didik diharapkan memberikan semangat atau dorongan”.

Kaitannya Pratap triloka ini dengan pengambilan
keputusan yaitu guru sebagai pamong dan sebagai pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan harus  berbasis
nilai-nilai kebajikan, berpihak pada murid, dan keputusan yang diambil harus
dapat dipertanggungjawabkan, sehingga tujuan pendidikan yang diharapkan oleh
KHD dapat tercepai.
 

2.  Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Dalam pembelajaran mengenai budaya
positif ( modul 1.4)  dijelaskan mengenai
nilai-nilai kebajikan universal.  
Nilai-nilai dalam diri
mempunyai pengaruh pada perilaku dan sikap seseorang

serta mempengaruhi
prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan.  Nilai yang
dimiliki oleh seorang pendidik seperti mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif dan berpihak pada murid akan mempengaruhi pendidik dalam mengambil keputusan
dan bersikap ketika menghadapi masalah.
Pengambilan keputusan
sering kali dihadapkan pada nilai-nilai yang saling bertentangan namun selama
keputusan yang diambil berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini dan
dengan prinsip berpihak pada murid, serta dapat dipertanggungjawabkan maka
keputusan dapat diambil.

Oleh karena itu, penting bagi seorang
guru untuk terus memupuk nilai-nilai kebajikan universal tersebut agar terus
tumbuh dan berkembang, Sehingga seorang guru dapat mengambil keputusan secara  tepat, berpihak pada murid, serta dapat
dipertanggungjawabkan.

3.  Bagaimana
kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

Pembimbingan yang dilakukan oleh
fasilisator telah membantu saya berlatih, berproses, dan merefleksikan
keputusan yang telah diambil.
 Apakah
keputusan tersebut sudah berpihak kepada peserta didik, apakah sudah sejalan
dengan nilai-nilai kebajikan universal, apakah keputusan yang diambil
bermanfaat untuk banyak orang dan apakah keputusan yang diambil tersebut dapat
dipertanggung jawabkan.
 

Seorang pendidik harus mampu mengetahui
dan memahami kebutuhan belajar serta kondisi sosial dan emosional dari peserta
didiknya. Seorang peserta didik  harus
mampu menyelesaikan permasalahannya dalam belajar yang dihadapinya. Pentingnya
pendekatan Coaching dilaksanakan oleh guru, karena guru dalam hal ini sebagai
coach akan menggali potensi yang dimiliki oleh peserta didiknya untuk dapat
menyelesaikan masalahnya sendiri. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan
melakukan metode TIRTA.

Dalam  mengambil sebuah keputusan dengan baik maka
keterampilan coaching sangat  membantu
kita sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan keputusan.  Coaching dapat membantu dalam pengambilan
keputusan yang tepat yang berpengaruh  bagi peserta didik dalam proses pembelajaran.  Sesi coaching membantu guru untuk
memaksimalkan potensi yang dimiliki dan memecahkan permasalahan saat menjadi
pemimpin pembelajaran, sehingga pada saat menentukan suatu permasalahan dilema
etika seorang guru mampu mengidentifikasi suatu permasalahan dengan teknik coaching,
sehingga mampu menghasilkan keputusan yang tepat dan berpihak pada peserta
didik .
 

4.   Bagaimana
kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan
berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Dalam
modul 2.2 CGP  telah mempelajari Kompetensi
Sosial Dan Emosional ( KSE). Kompetensi Sosial Emosional ini  merupakan keterampilan yang harus dimiliki  oleh pnedidik berkaitan dengan bagaimana
seseorang dapat mengelola dan menyadari aspek sosial emosional yang berpengaruh
terhadap pengambilan keputusan khususnya masalah dilema etika. Pendidik harus
mampu mengidentifikasi dan memahami kebutuhan belajar muridnya serta mampu
mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah
keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Dalam proses pengambilan keputusan
yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi sosial emosional seperti
kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran
sosial (social awareness) dan ketrampilan berhubungan sosial (relationship
skills). Sehingga diharapkan proses pengambilan keputusan dapat dilakukan
secara sadar penuh (mindfull), terutama sadar dengan berbagai pilihan ,
konsekuensi yang akan terjadi, dan meminilisir kesalahan dalam pengambilan
keputusan. Keputusan yang kita ambil tidak bisa sepenuhnya mengakomodir seluruh
kepentingan yang ada, tetapi keputusan yang diambil  mengandung nilai nilai kebajkan, keberpihakan
pada peserta didik dan dapat dipertanggungjawabkan.

5.   Bagaimana
pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada
nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Sebagai
pemimpin pembelajaran untuk studi kasus yang fokus pada masalah moral atau
etika, seorang pendidik harus mampu  mengidentifikasi dan melihat permasalaahn yang
dihadapi apakah termasuk bujukan moral atau termasuk dilema etika. Jika kasus
termasuk bujukan moral maka kita memilih pada keputusan benar yang diambil
berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini. Jika kasus yang dihadapi
adalah kasus yang termasuk dilema etika maka yang harus dilakukan adalah
melakukan 9 langkah pengambilan dan pengujian pengambilan keputusan.
Berdasarkan 4 paradigma dan 3 prinsip pengambilan keputusan. Sebagai seorang
pendidik tentunya dasar pengambilan keputusan adalah berbasis nilai-nilai
kebajikan, berpihak pada murid, dan bertanggung jawab.

6.     
Bagaimana
pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Setiap
keputusan yang kita ambil selalu ada konsekwensi yang mengikutinya, oleh sebab
itu setiap keputusan harus dilandasi oleh rasa tanggung jawab, nilai-nilai yang
universal dan berpihak pada murid.

Pengambilan
keputusan yang tepat dapat dilakukan dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan yaitu:

1.        
Mengenali nilai-nilai yang saling
bertentangan

2.        
Siapa saja yang terlibat dalam situasi
ini

3.        
Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
dengan situasinya

4.        
Pengujian benar atau salah melalui uji
legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan/idola

5.        
Pengujian paradigma benar lawan benar,
paradigma individu lawan kelompok, keadilan lawan rasa kasihan, kesetian lawan
kebenaran, dan jangka pendek lawan jangka Panjang.

6.        
Melakukan prinsip resolusi berpikir
berdasarkan hasil akhir, berpikir berdasarkan rasa peduli, dan berpikir
berdasarkan peraturan

7.        
Investigasi opsi trilema

8.        
Buat keputusan

9.        
Merefleksikan keputusan yang telah
dibuat

Disamping itu pengunaan
pendekatan
Inkuiri
Apresiatif
maka akan tercipta
suasana baik, kehidupan yang harmonis dan pada akhirnya akan tercipta lingkungan
positif yang kondusif, aman dan nyaman.

 

7.     
Apakah
tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan
keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan
perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Pengambilan
keputusan sering kali berbagai kepentingan saling bersinggungan dan ada pihak
pihak yang merasa dirugikan dan tidak puas.  Dalam pengambilan keputusan pastinya ada
tantangan yang akan dihadapi. Tantangan yang dihadapi adalah resiko yang muncul
dari keputusan yang buat apalagi kasus yang dihadapi adalah dilema etika,
beberapa tantangan seperti:

  • tidak semua warga sekolah memiliki
    komitmen yang sama dalam menjalankan suatu keputusan bersama.
  • Adanya masalah perubahan paradigma (
    Miskonsepesi) dan budaya sekolah  yang
    sudah dilakukan bertahun tahun.
  • Pemahaman yang tidak utuh  tentang informasi yang berkaitan dengan kasus
    yang ditangani
  • perbedaan pandangan
    diantara pihak-pihak yang terlibat dalam kasus yang mempersulit tercapainya kesepakatan.

Yang
terpenting adalah dalam pengambilan keputusan perlu  mendasarkan pada : berbasis nilai-nilai
kebajikan, berpihak pada murid, dan bertanggungjawab atas keputusan yang
dibuat.

8.   Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang
tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh
dari keputusan yang kita ambil dengan pengajaran yang memerdekakan murid adalah
dengan merdeka belajar. Sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara
bahwa pendidikan proses menuntun kekuatan kodrat yang ada pada murid untuk
mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya sebagai manusia
maupun anggota masyarakat. Hal tersebut bahwa kita sebagai pendidik harus
memberikan ruang kebebasan kepada murid dalam menggali potensi yang
dimilikinya. Ruang kebebasan di sini bukan bebas tanpa aturan namun berdasarkan
nilai-nilai kebajikan yang diyakini. Melihat potensi murid yang berbeda-beda
maka keputusan yang dibuat adalah dengan memberikan pembelajaran yang
berdeferensiasi sesuai dengan kesiapan belajar dan profil belajar murid.

9.     
Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru merupakan seorang pemimpin
pembelajaran yang tugasnya menuntun kodrat dasar dari siswanya. Guru
diibaratkan petani dan murid adalah benihnya, maka berkembang atau tidaknya
seorang murid tergantung dari perlakuan gurunya.  Oleh karena itu keputusan yang diambil harus
berpihak pada kepentingan murid dan fokus pada perkembangan potensi murid.
Karena setiap keputusan yang diberikan guru sangat berpengaruh pada
perkembangan masa depan murid. Sebagai seorang pendidik kita harus memiliki
empati, dan cara  berpikir berbasis rasa
pedul

10.   Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul
materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang saya tarik dan
keterkaitan dengan modul sebelumnya adalah sebagai pemimpin pembelajaran
keputusan yang diambil harus berpedoman pada tiga unsur yaitu berbasis nilai-nilai kebajikan, berpihak
pada murid, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Sesuai dengan Pratap triloka Ki Hajar Dewantara bahwa
sebagai pemimpin pembelajaran harus menjadi contoh, memberikan motivasi, dan
memberikan dorongan serta menjadi teladan yang baik karena sekolah adalah
institusi moral yang menuntun kekuatan kodrat yang ada pada murid untuk
mencapai keselamatan dan kebahagian setinggi-tingginya sebagai manusia dan
sebagai anggota masyarakat untuk itu keputusan yang kita ambil harus keputusan
yang berpihak pada murid.

 

Kaitan
pengambilan keputusan dengan modul nilai dan peran sebagai guru penggerak

adalah mewujudkan kepemimpinan murid. Pengambilan keputusan bukan hanya terkait
dengan regulasi sistem pendidikan yang ada di sekolah yang hanya melibatkan
guru, kepala sekolah, orang tua dan pihak lainnya akan tetapi murid juga
memiliki kesempatan dalam membuat keputusan baik dalam kegiatan pembelajaran
mapun dalam kegiatan berorganisasi di sekolah dengan melatih murid dalam
pengambilan keputusan maka dapat mewujudkan kepemimpinan murid.

 

Pengambilan
keputusan sangat berhubungan modul visi sebagai guru penggerak
.
Sekolah memiliki visi dan misi yang menjadi panduan dalam penyelenggaraan
pendidikan di sekolah. Selain dengan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan, pengambilan keputusan yang dilakukan harus sejalan dengan visi
sekolah.

Nilai-nilai
kebajikan universal yang dipelajari dalam modul budaya poistif
menjadi
dasar dalam pengambilan keputusan. Penerapan disiplin positif dapat dilakukan
jika pendidik memberikan pemahaman kepada murid mengenai nilai-nilai kebajikan.
Dengan memahami dan meyakini nilai-nilai kebajikan motivasi yang muncul adalah
motivasi intrinsik. Pengambilan keputusan sering kali dihadapkan pada
nilai-nilai yang saling bertentangan namun selama keputusan yang diambil
berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini dan dengan prinsip berpihak
pada murid, serta dapat dipertanggungjawabkan maka keputusan dapat diambil.

 

Pengambilan
keputusan terkait kegiatan pembelajaran adalah memberikan pembelajaran yang
berdeferensiasi
karena murid adalah unik memiliki
potensi yang berbeda maka pembelajaranpun harus sesuai dengan kebutuhan murid.

Dalam
modul Kompetensi sosial emosional
juga merupakan
keterampilan yang harus dimiliki berkaitan dengan bagaimana seseorang dapat
mengelola dan menyadari aspek sosial emosional yang berpengaruh terhadap
pengambilan keputusan khususnya masalah dilema etika. Karena keputusan yang
diambil harus dapat dipertanggungjawabkan maka sesorang harus memiliki
kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management),
kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan berelasi karena keputusan
yang diambil akan berdampak bagi orang yang mengambil keputusan dan orang lain
yang terkait dengan pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan ini juga harus
dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfull) dengan berbagai pilihan dan
konsekuensi yang harus dihadapi sebagai dampak pengambilan keputusan. Dengan
keterampilan kompetensi kesadaran sosial dan emosional maka diharapkan
keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

Pengambilan keputusan adalah suatu
keterampilan, semakin sering kita melakukannya maka semakin terlatih, fokus,
dan tepat sasaran. Dalam pengambilan keputusan sangat diperlukan keterampilan coaching karena dengan
keterampilan coaching pendidik dapat menjadi coach bagi dirinya sendiri dalam
mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam memprediksi hasil apakah keputusan yang
diambil efektif dan dapat dipertanggungjawabkan, dan melihat berbagai pilihan
solusi yang berkaitan juga dengan investigasi opsi trilema untuk pengambilan
keputusan yang baik.

Pengambilan keputusan yang tepat akan
menciptakan suasana yang kondusif, lingkungan yang positif yang akan mewujudkan
kemerdekaan dalam belajar yang akan mendukung murid untuk melakukan merdeka
belajar.
 

11.  Sejauh mana pemahaman Anda tentang
konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan
bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan
keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal
yang menurut Anda di luar dugaan?

Pemahaman
saya terkait dilema etika adalah ketika kita dihadapkan pada kasus yang
keputusan yang kita ambil sama-sama benar namun terdapat nilai-nilai yang
saling bertentangan yaitu benar lawan benar. Sedangkan bujukan moral adalah
ketika kita dihadapkan pada kasus yang terdapat dua keputusan yang satu benar
sedangkan keputusan yang satunya salah yaitu benar lawan salah.

Paradigma
pengambilan keputusan adalah landasan berpikir yang digunakan dalam pengambilan
keputusan. Paradigma pengambilan keputusan ini digunakan untuk kasus dilema
etika yaitu benar lawan benar. 4 Paradigma pengambilan keputusan yaitu

  1.  Individu
    lawan kelompok
  2.  Rasa
    keadilan lawan rasa kasihan
  3.  Kesetian
    lawan kebenaran
  4. Jangka
    pendek lawan jangka panjang

Prinsip
dalam pengambilan keputusan adalah dasar berpikir dan bertindak dalam
pengambilan keputusan. Tiga prinsip pengambilan keputusan yaitu

  •  Berpikir
    berbasis hasil akhir
  •  Berpikir
    berbasis rasa peduli
  • Berpikir
    berbasis peraturan

Sembilan
( 9) langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu

  1. Mengenali
    nilai-nilai yang saling bertentangan
  2. Siapa
    saja yang terlibat dalam situasi ini,
  3.  Kumpulkan
    fakta-fakta yang relevan dengan situasinya
  4. Pengujian
    benar atau salah melalui :

a.       uji
legal

b.      uji
regulasi/ standard profesional

c.       uji
intuisi

d.      uji
publikasi

e.       uji
panutan/idola

 5.      Pengujian
paradigma benar lawan benar,

a)      paradigma
individu lawan kelompok,

b)      keadilan
lawan rasa kasihan,

c)      kesetian
lawan kebenaran,

d)     jangka
pendek lawan jangka Panjang,

6.     6.  Melakukan
prinsip resolusi, prinsip penyelesaian dilemma dengan 3 prinsip berikut:

a.       berpikir
berdasarkan hasil akhir,

b.      berpikir
berdasarkan rasa peduli,

c.       berpikir
berdasarkan peraturan,

 

7.    7 . Investigasi
opsi trilema

8.     8 .Buat
keputusan

9.    9.  Merefleksikan
keputusan yang telah dibuat

Hal yang di luar dugaan
saya adalah ternyata pengambilan keputusan itu selain berdasarkan pada
nilai-nilai kebajikan, juga berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan.
Pengambilan keputusan yang tepat akan
menciptakan suasana yang kondusif, lingkungan yang positif yang akan mewujudkan
kemerdekaan dalam belajar yang akan mendukung murid untuk melakukan merdeka
belajar.

12.  Sebelum mempelajari modul ini,
pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi
moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di
modul ini?

Sebelum
mempelajarai modul ini tentunya saya pernah menghadapi pengambilan keputusan
baik dalam kasus bujukan moral dan dilema etika. Jika kasus terkait bujukan
moral sudah pasti keputusan yang diambil adalah keputusan yang benar. Tetapi
jika kasus yang dihadapi terkait dilema etika yang saya lakukan adalah
mengidentifikasi, mempelajari, berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait, bermusyawarah
dan mengambil keputusan. Perbedaannya ini adalah penyelesaiannya tidak
menggunakan  4 paradigma, 3 prinsip, 9
langkah pengujian, hanya sebatas menyelesaikan dengan lebih banyak menggunakan
cara bermusyawarah dan penyelesaian sepihak.

13.  Bagaimana dampak mempelajari
konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam
mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Perubahan
yang terjadi pada cara pengambilan keputusan sebelumnya adalah keputusan yang
diambil belum melalui 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan
pengujian keputusan. Setelah mempelajari modul ini saya akan melalukan
pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan.

14.  Seberapa penting mempelajari topik
modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat Penting
baik sebagai seorang individu maupun sebagai sebagai seorang pemimpin.

Sebagai
individu atau pemimpin pembelajaran tentunya selalu dihadapkan pada
permasalahan yang membutuhkan pengambilan keputusan yang tepat, dengan
mempelajari modul ini maka semakin meyakini saya dalam pengambilan sebuah
keputusan ang benar dan efektif  karena
berdasarkan nilai kebajikan, berpihak pada murid, 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan.

Hal
yang sama juga sebagai pemimpin yang mengambil kebijakan di sekolah sangat
penting untuk mempelajari modul ini. Pengambilan keputusan adalah keterampilan,
semakin dilatih, maka akan semakin mahir, bijak, dan tepat sasaran keputusan
yang diambil.

 

Guru
Penggerak, Tergerak, Bergerak, Dan Menggerakkan


Original source: http://imam-gunawan.blogspot.com/2023/04/koneksi-antar-materi-modul-31.html

About Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *